sarunghp

sarung hp

Selasa, 24 April 2012

CINA VS ALL OF YOU

forward email dari seorang kawan:

Saya seorang pribumi yang dulunya benci setengah mampus sama WNI
Keturunan China. Tetapi setelah hidup di Amerika selama 10 tahun dan
sekarang bekerja di salah satu bank terbesar di dunia berpusat di New
York City, pandangan saya berubah dan mengerti mengapa China itu
berbeda dengan orang pribumi.
Dan sebenarnya banyak sekali hal-hal yang kita tidak mengerti tentang
China, dan hal-hal ini sebenarnya harus kita ketahui dan kita pikirkan
lagi, karena hal-hal ini adalah sesuatu yang bisa kita pakai untuk
kepentingan bangsa sendiri dan untuk memajukan bangsa sendiri. Bukan
saya bilang bahwa kita harus berubah jadi China, cuma kalau memang
bagus mengapa tidak? Dan memang ada juga hal-hal buruknya, tetapi
semua bangsa juga punya.
Marilah saya mulai pendapat saya tentang perbandingan antara WNI asli
dan keturunan China :

1. Perbedaan-Perbedaan Nyata
Setelah bekerja tiga tahun lebih dan punya teman dekat orang bule dan
orang China dari Shanghai di tempat kerja saya, saya melihat banyak
sekali perbedaan-perbedaan, diantaranya :

A. Duit
a) Si bule, kalau gajian langsung ke bar, minum-minum sampe mabuk,
beli baju baru, beli hadiah macam-macam untuk istrinya. Dan sisanya
10% di simpan di bank. Langsung makan-makan di restoran mahal, apalagi
baru gajian.
 b) Si China, kalau gajian langsung disimpan di bank, kadang-kadang di
invest lagi di bank, beli saham, atau dibungain. Bajunya itu saja
sampe butut. Saya pernah tanya sama dia, duitnya yang disimpen ke bank
bisa sampe 75%-80% dari gaji.
c) Saya sendiri, kalau gajian biasanya boleh deh makan-makan sedikit,
apalagi baru gajian, beli baju kalau ada yang on-sale (lagi di
discount), beli barang-barang kebutuhan istri, sisanya kira2 tinggal
15-20% terus disimpen di bank.
 Kebanyakan di Amerika, orang China yang kerja kantoran (sebenarnya
Korea dan Jepang juga) muda-muda sudah bisa naik mobil bagus dan bisa
mulai beli rumah mewah. Walaupun orang tuanya bukan konglomerat dan
bukan mafia di Chinatown. Malah mereka beli barang senangnya cash,
bukan kredit! Soalnya mereka simpan duitnya benar-benar tidak bisa
dikalahkan oleh bangsa lain. Kalau bule atau orang hitam musti ngutang
sampe tahunan baru bisa lunas beli rumah.

B. Kerjaan
a) si bule, habis kerja (biasanya jam kerja jam 8 pagi - 6 sore) hari
Senin sampai hari Jumat (Sabtu dan minggu tidak kerja) ke bar atau
makan-makan menghabiskan gaji. Kalau disuruh lembur tiba-tiba,
biasanya kesel-kesel sendiri di kantor. Biasanya kalau hari Senin, si
bule tampangnya kusut, soalnya masih lama sampai hari Sabtu,
pikirannya weekend melulu! kalau hari Kamis, si bule malas kerja,
pikirannya hari Jumat melulu. Terus jalan-jalan gosip kiri kanan.
b) si China, habis kerja langsung pulang ke rumah, masak sendiri,
tidak pernah makan diluar (saya sering ngajak dia makan, cuma tidak
pernah mau, mahal katanya, musti simpan duit, kecuali kalau ada
hari-hari khusus). Kalau disuruh lembur tidak pernah menolak, malah
sering menawarkan diri untuk kerja lembur. Kalau disuruh kerja hari
Sabtu atau hari Minggu juga pasti mau. Kadang-kadang dia malah kerja
part-time (bukan sebagai pegawai penuh) di perusahaan lain untuk
menambah uangnya.
c) saya sendiri, kalau disuruh lembur, agak malas juga kadang-kadang
karena sudah punya rencana keluar pergi makan sama teman-teman kantor.
Kadang-kadang ingin sekali pulang ke rumah karena di kantor melulu,
cuma mau tidak mau mesti kerja (jadi kesannya terpaksa, tidak seperti
si China yang rela). Weekend paling malas kalau mesti kerja.
 Bos-bos juga biasanya suka sama orang China kalau soal kerjaan.
Mereka soalnya pekerja yang giat dan tidak pernah bilang "NO" sama
boss. Dapat kerja juga gampang kalau mukanya China, karena dipandang
sebagai "Good Worker". Atau pekerja giat. Jarang sekali, kecuali
penting sekali dia tidak bersedia kerja lembur. Dan kalaupun tidak
bersedia lembur, biasanya dia akan datang Sabtu atau Minggu, atau
kerja lembur besoknya.

C. Rumah
a)Apartment si bule, wah bagus sekali. Gayanya kontemporari. Penuh
dengan barang-barang perabotan dan furniture mahal. Pokoknya gajinya
pasti habis mengurus apartment dia.
b)Apartment si China, wah.. kacau. Cuma ranjang satu, dilantai saja.
Meja butut, dan dua kursi butut. TV nya kecil sekali, TV kabel saja
tidak punya. Pokoknya sederhana sekali. Waktu saya tanya, dia bilang
"bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. " Daerahnya pun
bukan di daerah mahal, tempatnya di daerah kumuh dan kurang ada yang
mau tinggal.
c)Apartment saya sendiri, yah lumayan, cuma istri saya suka juga
merias rumah. Jadi apartment saya lumayanlah tidak seperti punya si
China. Saya benar-benar salut dia bisa hidup begitu. Padahal duitnya
di bank banyak. Gaji dia saja lebih tinggi dari saya karena lebih lama
di perusahaan tersebut.
 Setelah 10 tahun, biasanya si bule, orang hitam, masih tinggal di
apartment atau baru hutang beli rumah, si China sudah bisa beli rumah
sendiri. Karena menabung dengan giatnya, dan cuma beli yang
penting-penting saja. Jadi uangnya ditabungkan sendiri.
 Disini saja saya bisa lihat perbedaan-perbedaan nyata, saya
pertama-tama pikir, wah si China ini pelit amat. Masa duit banyak
kayak begitu disimpan saja di bank. Dan kalau kita banding-bandingkan
dengan sejarah orang-orang China, kita akan tahu kenapa mereka (China)
itu dalam long-range nya (jangka panjang nya) lebih maju dari pribumi
di Indonesia, karena saya sempat bertukar pikiran dengan beberapa
teman lagi orang China lainnya, orang India, orang Arab, orang Jerman,
orang Amerika, dan orang China itu sendiri. Kita mesti tahu sejarahnya
orang China itu.

2. Perbandingan antara Sejarah Kebudayaan China dan Indonesia
China
 Bangsa China adalah bangsa yang bangga dengan bangsanya, karena
kebudayaan China adalah salah satu kebudayaan yang tertua di dunia,
hampir setaraf dengan Mesopotamia dan Mesir. Karena itu kebudayaan
China itu benar-benar menempel di sanubarinya. Susah sekali untuk
melepaskan kebudayaan tersebut karena memang betul kebudayaan mereka
itu hebat, terus terang, kalau kita bandingaan dengan kebudayaan kita
(pribumi Indonesia) kita tidak bisa mengalahkan kebudayaan orang
China. Dan memang kebudayaan mereka sudah diakui dunia.
 Menurut salah satu Journal of Archeology terkemuka di dunia, orang
Melayu itu unsurnya lebih banyak mengarah ke bangsa Mongol atau China.
Jadi bangsa Indonesia itu sebenarnya China, walaupun secara biologis
dan evolusis, ada unsur-unsur dari India dan Arab di darah orang
pribumi. Tetapi orang Indonesia (Melayu) itu sebenarnya genetik nya
lebih dekat ke orang China. Orang China itu sudah dari dulu, 4000
tahun, hidupnya diawang kesusahan terus (maksudnya rakyat kecilnya).
Negara China dari jaman dulu, katanya, sudah perang terus, rakyat
kecil disiksa olah pemerintahnya sendiri, dan pemerintahnya
berganti-ganti terus. Orang China bisa dibilang salah satu bangsa yang
tahan banting. Sudah biasa menderita, dan makin menderita, biasanya
orang akan makin nekad dan makin berani, jadi semua jalan ditempuh,
namanya saja mau hidup, bagaimana. Ini juga terjadi di Indonesia.
Karena negaranya sendiri, China, banyak masalah, mereka imigrasi
kemana-mana. Mereka ada dimana-mana, teman saya orang item dari
Nigeria dan Ethiopia (Afrika) bilang disana pun ada banyak orang
China. Dan herannya. China-China di Afrika pun sukses dan bisa
dibilang tidak miskin.
Indonesia
 Di Indonesia sendiri, waktu saya masih tinggal diJakarta, saya bisa
melihat perbedaan-perbedaannya, cuma waktu itu pikiran saya belum
terbuka. Saya pernah punya teman orang China di Senen buka toko kain.
Di sebelahnya persis ada pak Haji yang juga buka toko kain. Setelah
dua tahun, bisnis si China makin maju, dan si pak Haji sebelah,
akhirnya bangkrut. Ternyata bukan karena si China main curang atau
mengguna-guna si pak haji. Ternyata itu karena si China, walaupun
sudah untung, uangnya di simpan dan ditabung saja, untuk mengembangkan
bisnisnya lagi. Dan dia dan istrinya makan telor ceplok saja.
Sedangkan si pak haji baru untung sedikit sudah makan besar di
restoran karena gengsi sama keluarganya. Nah bukannya si pak haji ini
salah? Bukannya kita bisa lihat sendiri bahwa China ini pikirannya
lebih maju, lebih melihat ke depan dan lebih tahan banting? Saya kira
ini adalah suatu hal yang bisa kita contoh dari si China ini. Mungkin
kita tidak perlu terlalu pelit seperti dia, tapi juga tidak perlu
gengsi-gengsian.
 Saya sudah bertemu dengan banyak orang dari negara yang berbeda-beda
dan satu hal yang benar-benar nyata adalah orang yang tidak membuat
keputusan berdasarkan gengsi biasanya negaranya maju. Coba saja lihat
orang Hong Kong, orang Jepang, orang Inggris, orang Amerika, orang
Jerman dan orang Singapore, mereka sudah Maju sekali pemikirannya.
Tidak seperti orang Indonesia. Kalau Ya,yah sudah bilang Ya, kalau
Tidak, yah bilang Tidak. Jadi tidak ada yang tidak enak hati. Kalau
sudah lama tidak enak hati akhirnya berantem. Orang Indonesia
sayangnya gengsinya tinggi sekali, tidak mau mengaku kalau memang
salah atau harus merubah sesuatu yang jelek. Inilah kelemahannya!
 Di mata Internasional, bangsa Indonesia sudah terkenal sebagai Nazi
Jerman versi Asia Tenggara. Waktu perang dunia ke II bangsa Jerman
sedang miskin karena mereka kalah perang dunia ke I, supaya rakyat
tidak marah, si Hitler yang cerdik sengaja menyalahkan orang Yahudi
yang memang kaya dan menguasai ekonomi Jerman. Dan orang Yahudi
akibatnya dibantai dan tidak diperlakukan sebagai warga negara
sendiri. Padahal mereka juga sudah lama tinggal di Jerman dan sudah
merasa sebagai bangsa sendiri, walaupun mereka masih memegang
kebudayaan mereka yang tinggi, sama seperti China di Indonesia. Di
Indonesia anehnya, pribumi benci dengan China tetapi bukan dengan
orang Belanda atau orang Jepang. Kalau dipikir-pikir, China itu tidak
salah apa-apa. Saya sebagai pribumi baru sadar akan hal itu! Belanda
menyiksa bangsa Indonesia dan menguras harta bumi kekayaan Indonesia
selama 350 tahun dan setelah pergi meninggalkan penyakit yang paling
bahaya dan mendarah daging, yaitu korupsi, yang sampai sekarang juga
menimbulkan krisis ekonomi setelah 53 tahun merdeka rupanya penyakit
ini bukannya makin terobati, tetapi makan menusuk dan menular ke
seluruh badan dan mental bangsa Indonesia.
 Bangsa Jepang, cuma menguasai 3.5 tahun, tapi menyiksa bangsa
Indonesia lebih kejam dari bangsa lain. Karena kalah perang, bangsa
jepang, yah mau tidak mau sekarang mesti menguasai dunia secara
ekonomi tidak bisa lagi main angkat senjata. Anehnya kita sebagai
pribumi malah benci dengan China bukannya dengan Belanda atau jepang.
Lucu sih. Semua bangsa lain (Korea, China, Burma, Vietnam, dan Afrika)
benci dengan bekas penjajahnya bukan penduduk sesama yang telah hidup
bertahun -tahun bersama-sama yaitu China kalau di Indonesia. Salah apa
si China-China ini, tidak salah apa-apa. Kenapa mereka kelihatannya
"buas" dalam bisnis, "tamak", dan "rakus"? Kenapa? Karena mereka
selama tinggal di Indonesia selalu diperlakukan sebagai orang "luar"
dan di anak-tirikan. Coba bayangkan kalau anda-anda jadi China, pasti
anda-anda juga mau melindungi diri sendiri, siapa yang mau tidak makan
besok ? atau mati ? Yah, dengan begitu, mereka jadi cerdik, agak
"licik", mengambil kesempatan dalam kesempitan, jadinya berhasil
memegang ekonomi indonesia. Tapi mereka juga bekerja keras, Jauh
..Sangat jauh lebih keras dari kita yang pribumi. Bukan cuma di
Indonesia saja, orang China sepertinya ditaruh dimana saja pasti
sukses dan bekerja keras. Mereka (China) tidak menyerah pada nasib,
dan selalu ingin menjadi dua kali lipatkan tarif hidupnya, kita yang
pribumi, biasanya puas dengan keberhasilan kita dan malas-malasan
karena merasa sudah diatas angin. Bagi China ini tidak berlaku, mau
setinggi apa juga, pasti bisa lebih tinggi lagi. Kita saja yang bodoh,
mau dengar omongan pemerintah yang brengsek dan mengkambing-hitamkan
China. Karena mereka sendiri juga busuk tetapi takut ketahuan. Jadi
mereka menggunakan China sebagai tameng dan kambing hitamnya.
 Gimana mau hidup sebagai negara yang maju coba? Kalau tidak bersatu.
Negara yang maju harus bisa hidup dengan tentram satu sama lain tidak
peduli dengan warna kulit, agama, dan keturunan. Semuanya mesti diakui
sebagai satu bangsa. Contohnya Amerika, mau cari orang dari mana saja
ada. Cuma mereka bersatu, dan mereka sadar tiap orang punya kejelekan
masing-masing. Cuma tidak digembar-gemborkan, tapi dibicarakan dan
diubah. Yang bagusnya diambil, dan dipakai bersama-sama untuk
memajukan negara. Tidak segan-segan, atau gengsi, kalau gengsi-gengsi
maka tidak akan maju. Harus open (terbuka) dan mau menerima kesalahan
dan mesti mau berubah. Life Is A Role Playing Game!! 

NB:
Ada beberapa hal yang perlu diluruskan, tidak semua orang China di
seluruh dunia adalah orang sukses, masih banyak juga diantara mereka
yang hidup dibawah garis kemiskinan. Sebagai contoh bisa Anda lihat di
daerah Tangerang, Banten. 

Disana masih banyak warga keturunan China yang sudah tinggal disana
selama bergenerasi-generasi (sehingga kulit merekapun sudah berbeda dg
keturunan China yang bermigrasi pada abad 20-an), yang masih kesulitan
untuk makan. Diharapkan koreksi ini dapat menghilangkan stereotipe di
Indonesia, bahwa semua orang keturunan China adalah orang kaya yang
sukses.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

kritik dan saran sobat akan sangat membantu, terima kasih atas kesediaanya berkomentar

sarunghp